Hari minggu pagi di Banyuwangi, tiba-tiba saya ingin sarapan yang agak beda dari biasanya. Biasanya sih nyari sarapan di Pasar Minggu Pagi Desa Kemiren atau beli Nasi Uduk Jakarta di dekat Pelabuhan Ketapang. Kali ini saya pergi ke daerah Singojuruh tepatnya di Desa Alas Malang yang terkenal dengan Adat Kebo-keboannya. Di Desa tersebut ada sebuah pasar yang unik. Pasar ditengah kebun kecil. Dibawah pohonnya banyak orang berjualan makanan siap santap. Pasar tersebut bernama Pasar Wit-Witan.
“Inilah salah satu alasan kami menggelar event ini. Kami ingin mengubah kesan, menjadikan pasar tampil bersih sehingga nyaman sebagai tempat transaksi belanja. Apalagi kini sudah mulai banyak wisatawan yang menjadikan pasar sebagai bagian dari city tour. Tentunya, ini memaksa pasar harus membenahi tempatnya,” kata Anas.
Selain itu, Anas mendorong tumbuhnya pasar tradisional sebagai bentuk melestarikan warisan budaya. Pasar tradisional dinilai menjadi representasi wajah daerah.
“Banyak nilai baik yang terkandung. Pasar tradisional memungkinkan ada tegur sapa pedagang dan pembelia, sehingga ada keakraban. Beda dengan pasar moderen yang interaksinya kaku. Ada budaya silaturahim di pasar tradisional,” kata Anas.
Juara pertama dalam lomba antarpasar di ajang Festival Pasar Tradisional ini adalah Pasar Blambangan dengan hadiah sapi, juara kedua Pasar Banyuwangi dengan hadiah tiga ekor kambing, dan juara ketiga Pasar Genteng yang mendapat hadiah dua ekoor kambing.
“Sapi dan kambingnya bisa disembelih, dimakam bareng-bareng, sehingga makin menambah keguyuban antarpedagang, makin kompak ke depan untuk sama-sama berbenah. Sekaligus sapi dan kambingnya bisa dinikmati dalam tasyakuran sederhana, agar rezeki terus mengalir ke pasar tradisional,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, juga diluncurkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) Pasar yang tujuannya untuk menata manajemen pedagang pasar. Bekerja sama dengan Bank Jatim, lewat sistem tersebut, data pedagang dan retribsuinya bisa terpantau dengan baik secara real time.